Tuesday, December 2, 2008

Krisis Finansial #2

Seri Diskusi Ekonomi 1 (bag 1)

Krisis Finansial Global: Anatomi, Dampak dan Respon Kebijakan


Krisis finansial AS yang dengan cepat bertransformasi menjadi krisis global, telah menjadi krisis terburuk sejak Great Depression 1929. Setelah kejatuhan pasar saham pada Oktober 1929, AS membutuhkan waktu lebih dari tiga tahun untuk memulihkan perekonomian yang turun sepertiga outputnya dengan 25% tenaga kerja menjadi pengangguran.

Dalam beberapa bulan terakhir, sekitar setahun setelah pecahnya krisis subprime mortgages pada Juli 2007, pemerintah AS melakukan intervensi paling dramatis di pasar finansial sejak 1930-an. Dalam 2 minggu yang bergolak, pemerintah AS menasionalisasi 2 raksasa mortgage, Fannie Mae dan Freddie Mac, mengambil alih AIG, perusahaan asuransi terbesar di dunia, dan memperluas jaminan dana pemerintah hingga $ 3,4 trilyun di pasar uang antar bank, melarang transaksi short-selling di lebih 900 saham perusahaan finansial, dan yang paling dramatis memberikan bail-out $ 700 milyar ke sistem finansial untuk menutup kerugian aset-aset beracun yang terkait dengan mortgage. Hanya dalam waktu 3 minggu pemerintah AS telah menambah utang bruto-nya lebih dari $ 1 trilyun – 2 kali lipat dari biaya perang Irak.

Intervensi yang tidak kalah dramatis juga dilakukan berbagai negara yang terkena dampak terbesar krisis subprime mortgage ini. Bradford & Bingle dinasionalisasi oleh pemerintah Inggris, Fortis diambil alih pemerintah Belgia, Belanda dan Luksemburg, bail-out Hypo Real Estate Group Jerman € 35 milyar, dan pengambilalihan Glitnir Bank oleh pemerintah Islandia. Hal ini belum termasuk sejumlah besar intervensi di pasar uang dan injeksi ratusan $ milyar likuiditas oleh bank sentral Eropa, Jepang, Inggris, Australia dan Swiss.

Intervensi global ini diperkirakan masih akan terus berlanjut mengingat kerugian akibat krisis kredit macet di AS juga terus membesar dengan cepat. Estimasi terakhir oleh IMF pada Oktober 2008, kerugian global akibat krisis ini mencapai $ 1,4 trilyun, naik hampir $ 500 milyar dari estimasi April 2008 yang sebesar $ 945 milyar.


Anatomi Krisis
Krisis finansial AS berakar pada gelembung kredit dan perumahan. Harga rumah di AS secara rata-rata turun 20%, diperkirakan masih akan turun 10% lagi. Kerugian akibat kredit macet di mortgages dengan cepat menyebar akibat produk-produk derivatif terkait mortgages yang telah tersebar luas di seluruh dunia. Perhitungan terakhir dari IMF memperkirakan kerugian global akibat krisis di AS ini akan mencapai US$ 1,4 trilyun. Hingga kini berbagai lembaga keuangan yang memiliki kredit ini telah mencatat kerugian US$ 760 milyar.

Hal diatas hampir dipastikan akan memicu global credit crunch dan akan menyeret dunia ke dalam resesi. Sebagian besar negara sebenarnya juga sudah berada dalam kondisi resesi sebelumnya akibat kenaikan harga minyak dan komoditas di awal tahun 2008 ini. Krisis kali ini diperkirakan akan berlangsung dalam waktu panjang.

Secara tradisional, krisis perbankan besar selalu diatasi dengan bail-out oleh pemerintah, dan tindakan awal yang signifikan, apakah dengan rekapitalisasi bank atau mengambil alih kredit macet bank, dapat meminimalkan kerugian pada pembayar pajak dan kerusakan perekonomian dari kerugian yang lebih besar. Pemerintah AS telah mengalokasikan 7% dari GDP untuk hal ini. Biaya krisis perbankan secara umum berkisar 16% dari GDP. Namun diatas segalanya, biaya krisis ini ditanggung sepenuhnya oleh dana publik.

Dampak lanjutan krisis finansial AS adalah krisis mata uang. AS sangat bergantung pada aliran dana asing karena defisit neraca berjalan-nya yang besar. Jika pemilik modal kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan pemerintah AS dan stabilitas pasar modal, dan kemudian melepas dollar secara masif, AS akan menghadapi dua krisis kembar, krisis perbankan dan krisis mata uang. Kejatuhan dollar akan menjadi pukulan telak ke-dua bagi perekonomian AS.

Dampak Krisis
Krisis global 2008 ini dipastikan akan memberi dampak besar bagi perekonomian dunia. Globalisasi dan perdagangan bebas akan kembali mendapat perlawanan keras. Krisis yang menyebar cepat di dunia yang mengglobal, akan menjadi amunisi perlawanan baru terhadap integrasi dunia. Perkembangan perekonomian dunia ke depan juga akan dipengaruhi oleh beberapa implikasi krisis.

Pertama, re-regulasi keuangan modern. Keuangan modern yang menjadi pemicu krisis dan membuatnya berkepanjangan, seperti derivatif, diperkirakan akan mendapat perhatian ketat dari regulator. Krisis saving & loan pada 1980-an adalah besar namun karena tidak menimbulkan dampak ekonomi yang terlalu besar, maka konsekuensi regulasi-nya menjadi moderat.

Kedua, krisis finansial AS ini akan menjadi momentum bagi pemerintah dibanyak negara untuk memperluas peran mereka di bidang selain keuangan. Di banyak negara, kenaikan harga komoditas dan minyak telah menimbulkan ketegangan sosial dan politik domestik yang tinggi. Sebagai respon-nya, pemerintah memperluas peran mereka dengan meningkatkan subsidi, intervensi harga, pelarangan ekspor komoditas utama hingga merestriksi futures trading.

Ketiga, AS kehilangan otoritas intelektual dan pengaruh ekonomi mereka. Di titik inilah peran negara berkembang yang kini telah mengubah wajah perdagangan global, seperti China dan India, ke depan diperkirakan juga akan semakin mempengaruhi wajah keuangan global. Jika negara-negara kaya Asia dan eksportir minyak menyuntikkan modal, deleveraging di perekonomian Barat akan lebih tidak menyakitkan bagi perekonomian global.
Respon Kebijakan

Sejak krisis kredit subprime mortgage meletus pada Juli 2007, berbagai intervensi telah dilakukan, namun kondisi pasar terus memburuk. Kepercayaan global terhadap institusi keuangan utama runtuh secara keseluruhan pasca kejatuhan AIG dan Lehman Brother di bulan September 2008. Kombinasi dari kerugian yang terus meningkat, harga aset yang semakin menurun, dan memburuknya kondisi perekonomian, berdampak sangat serius pada keberlangsungan sistem keuangan global. Proses develeraging semakin cepat dan berubah menjadi kekacauan yang serius – yang ditandai oleh anjloknya saham-saham institusi keuangan, cost of funding dan proteksi credit default yang lebih tinggi, dan harga aset yang semakin tertekan. Hasilnya adalah kebangkrutan tiba-tiba dari institusi keuangan seiring pasar yang tidak mau mengucurkan likuiditas atau menyerap aset.

Respon kebijakan terhadap krisis finansial global ini, secara umum dapat dikelompokkan dalam beberapa kelompok utama. Pertama, ukuran-ukuran yang komprehensif untuk menghentikan proses destruktif yang sedang berjalan, mengembalikan kepercayaan pasar dan memulihkan stabilitas sistem keuangan. Panduan umum yang dipergunakan disini adalah:
- memperbaiki ketersediaan dana, biaya dan maturity untuk menstabilkan neraca perusahaan, dan injeksi modal untuk institusi dengan fundamental yang baik.
- kebijakan yang konsisten dan koheren antar negara untuk menstabilkan sistem finansial global.
- memastikan respon yang cepat berbasis sistem deteksi dini, dengan koordinasi yang tinggi antar otoritas kebijakan di masing-masing negara dan lintas negara.
- memastikan bahwa intervensi darurat pemerintah adalah temporer, meminimalkan moral hazard, dan kepentingan pembayar pajak dilindungi.
- mengejar tujuan jangka menengah dari sistem finansial yang efisien, kompetitif dan stabil, dengan cara seperti memperbaiki supervisi dan regulasi di tingkat domestik dan global, termasuk mendirikan clearing organizations yang tersentralisasi di pasar uang dan sekuritisasi untuk menurunkan resiko kredit.

Kedua, langkah-langkah untuk mengatasi tiga bidang yang saling terkait yang berhubungan dengan proses deleveraging: modal yang tidak mencukupi, valuasi aset yang jatuh dan tidak pasti, dan tidak berfungsinya pasar pendanaan.
Untuk mempertahankan pertumbuhan kredit dan memperkuat rasio modal bank, diperkirakan dibutuhkan setidaknya suntikan modal $ 675 milyar ke perbankan global. Beberapa ukuran dapat diterapkan disini: [i] suntikan modal diprioritaskan pada institusi keuangan yang masih dapat terus bertahan; dan [ii] penyelesaian terhadap bank yang tidak dapat bertahan untuk menunjukkan komitmen terhadap sistem perbankan yang kompetitif dan sehat.

Seiring sektor swasta melepas aset untuk menurunkan leverage, penggunaan dana publik dapat mencegah likuidasi “fire sale” yang mengancam menurunkan modal bank. Ukuran yang dapat diterapkan disini: [i] pemerintah membeli atau menyediakan pendanaan jangka panjang bagi bank yang memiliki exposure besar pada aset-aset bermasalah; dan [ii] judgment yang lebih longgar dalam valuasi aset untuk mencegah kebutuhan dana yang terus membesar di tengah tekanan menilai aset pada harga “fire sale”.

Institusi keuangan yang menyandarkan diri pada wholesale funding, khususnya di pasar internasional, menghadapi resiko yang meningkat. Langkah-langkah sebelumnya, memiliki dampak positif pada pasar pendanaan. Namun untuk situasi khusus, beberapa ukuran yang dapat diterapkan disini: [i] peningkatan jaminan simpanan nasabah diatas batas normal, termasuk blanket guarantee dalam situasi darurat; dan [ii] jaminan dapat mencakup kewajiban utang untuk periode temporer.

Secara umum, semua respon kebijakan berangkat dari sebuah postulat bahwa sumber daya publik dibutuhkan untuk menjamin kelangsungan stabilitas finansial, memfasilitasi proses deleveraging yang lancar, dan mencegah credit crunch. Hal ini merupakan upaya penyelamatan sektor riil mengingat keterkaitan erat antara sistem finansial dan sektor riil.

Yusuf Wibisono
Direktur Eksekutif
INDIE (Indonesian Development for Institution and Economic) Institute

Dikutip dari Buletin Ekonomi dan Kelembagaan INDIE Review No.8,Tahun III, 21 Oktober 2008

No comments:

Post a Comment