Kantor Unit Penambangan Timah Belitung (UPT-Bel) di pusat kota Tanjungpandan ini adalah saksi bisu masa-masa kejayaan timah di Pulau Belitung. Sejak UPT-Bel ditutup, gedung megah ini pun ikut kehilangan roh dan kini hanya tinggal kenangan
(Kompas.com, Selasa 25 Agustus 2009)
Sejarah Pulau Belitong seperti kisah tebu yang dibuang setelah jadi sepah. Semasa zaman Belanda hingga Orde Baru, pulau itu ditimang-timang lantaran menghasilkan timah yang memberi untung besar. Saat harga timah merosot dan tak lagi jadi primadona ekspor, kawasan itu pun ditinggalkan.
Belanda mendirikan perusahaan pertambangan timah besar pada tahun 1851, yang dikenal dengan nama Gemeenschappelijke Mijnbouwmaatschappij Billiton (GMB). Belitong memberi kentungan besar dengan timah yang diekspor ke Eropa. Untuk memperbesar usaha, didatangkanlah para pekerja tambang dari China.
Belanda memenuhi kebutuhan makanan bagi para pekerja dan membuat perumahan bagi karyawan dan pejabat tambang timah, antara lain di Bukit Samak di Manggar (sekarang Belitong Timur). Meski para pekerja timah mendapat kesejahteraan, tetapi buruh dari kalangan Melayu tetap dianaktirikan. "Ada strata kelas sosial ciptaan Belanda, yaitu pejabat timah dari Eropa, kuli China, suku Laut, dan masyarakat Melayu lokal," kata Salim.
Kelas itu sangat ketat membatasi gerak-gerik masyarakat. Pergaulan pejabat timah tinggi dan rendah yang beda kelas dipisahkan. "Masyarakat yang tak terlibat dalam tambang timah sama sekali tak bisa menikmati kemakmuran itu," kata Sa'ei MS (73), Ketua Lembaga Adat Belitong Timur di Manggar.
Ketika Indonesia merdeka, Belitong jadi bagian dari Provinsi Sumatera Selatan. Namun, timah masih dikelola elite Belanda hingga tahun 1959. Selepas itu, perusahaan timah dikeola PN Timah, lantas menjadi PT Timah Tbk. Semasa itu, timah masih menjadi primadona meski keuntungannya banyak diangkut kepusat.
Pertengahan tahun 1980-an, harga timah merosot, kemudian pertengahan tahun 1990-an, pemerintah resmi menutup penambangan tersebut. Belitong pun ditinggalkan sebagai kawasan telantar.
Pascareformasi
Setelah reformasi 1998, masyarakat ramai-ramai mulai menambang timah. Ada yang melimbang secara tradisional dengan memunguti pasir dan tanah di bekas tambang timah. Ada lagi tambang timah inkonvensional (TI) yang mengerahkan alat berat menyedot pasir secara besar-besaran. Akibat penambangan ini, tanah di Belitong kini rusak parah.
Bekas penambangan yang tak direklamasi meninggalkan lubang alias kolong bekas galian. Galian itu merusak jalur air, bahkan mengancam kelestarian lingkungan pantai yang indah. Penyedotan dan lumpur timah mencemari sungai.
"Kalau penambangan liar ini dibiarkan terus, kami tidak tahu bagaimana nasib Belitong 20 tahun lagi? Jangan-jangan sudah tenggelam," kata Khairil Musridiyanto, warga Manggar yang juga Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Belitong Timur.
Tahun 2000, wilayah itu memisahkan diri dari Sumatera Selatan dan masuk dalam Provinsi Kepulauan Bangka-Belitong. Belitong kemudian terbagi dua, yaitu Belitong (induk) dengan ibu kota Tanjung Pandan dan Belitong Timur dengan ibu kota Manggar. Meski sudah dimekarkan, nasib kawasan belum jauh berubah, masih tertinggal dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
"Untunglah muncul novel dan film Laskar Pelangi. Semoga karya itu menandai kebangkitan Belitong," kata Saderi (68), tokoh masyarakat di Gantong, Belitong. (IAM)
Belanda mendirikan perusahaan pertambangan timah besar pada tahun 1851, yang dikenal dengan nama Gemeenschappelijke Mijnbouwmaatschappij Billiton (GMB). Belitong memberi kentungan besar dengan timah yang diekspor ke Eropa. Untuk memperbesar usaha, didatangkanlah para pekerja tambang dari China.
Belanda memenuhi kebutuhan makanan bagi para pekerja dan membuat perumahan bagi karyawan dan pejabat tambang timah, antara lain di Bukit Samak di Manggar (sekarang Belitong Timur). Meski para pekerja timah mendapat kesejahteraan, tetapi buruh dari kalangan Melayu tetap dianaktirikan. "Ada strata kelas sosial ciptaan Belanda, yaitu pejabat timah dari Eropa, kuli China, suku Laut, dan masyarakat Melayu lokal," kata Salim.
Kelas itu sangat ketat membatasi gerak-gerik masyarakat. Pergaulan pejabat timah tinggi dan rendah yang beda kelas dipisahkan. "Masyarakat yang tak terlibat dalam tambang timah sama sekali tak bisa menikmati kemakmuran itu," kata Sa'ei MS (73), Ketua Lembaga Adat Belitong Timur di Manggar.
Ketika Indonesia merdeka, Belitong jadi bagian dari Provinsi Sumatera Selatan. Namun, timah masih dikelola elite Belanda hingga tahun 1959. Selepas itu, perusahaan timah dikeola PN Timah, lantas menjadi PT Timah Tbk. Semasa itu, timah masih menjadi primadona meski keuntungannya banyak diangkut kepusat.
Pertengahan tahun 1980-an, harga timah merosot, kemudian pertengahan tahun 1990-an, pemerintah resmi menutup penambangan tersebut. Belitong pun ditinggalkan sebagai kawasan telantar.
Pascareformasi
Setelah reformasi 1998, masyarakat ramai-ramai mulai menambang timah. Ada yang melimbang secara tradisional dengan memunguti pasir dan tanah di bekas tambang timah. Ada lagi tambang timah inkonvensional (TI) yang mengerahkan alat berat menyedot pasir secara besar-besaran. Akibat penambangan ini, tanah di Belitong kini rusak parah.
Bekas penambangan yang tak direklamasi meninggalkan lubang alias kolong bekas galian. Galian itu merusak jalur air, bahkan mengancam kelestarian lingkungan pantai yang indah. Penyedotan dan lumpur timah mencemari sungai.
"Kalau penambangan liar ini dibiarkan terus, kami tidak tahu bagaimana nasib Belitong 20 tahun lagi? Jangan-jangan sudah tenggelam," kata Khairil Musridiyanto, warga Manggar yang juga Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Belitong Timur.
Tahun 2000, wilayah itu memisahkan diri dari Sumatera Selatan dan masuk dalam Provinsi Kepulauan Bangka-Belitong. Belitong kemudian terbagi dua, yaitu Belitong (induk) dengan ibu kota Tanjung Pandan dan Belitong Timur dengan ibu kota Manggar. Meski sudah dimekarkan, nasib kawasan belum jauh berubah, masih tertinggal dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
"Untunglah muncul novel dan film Laskar Pelangi. Semoga karya itu menandai kebangkitan Belitong," kata Saderi (68), tokoh masyarakat di Gantong, Belitong. (IAM)
Menyedihkan memang,,,setelah diekploitasi habis-habisan,sampai kering bumi dipijak...tak bersisa pun kini. Ketika saya dan teman berkunjung ke sana dalam rangka perjalanan dinas,betapa mengenaskan memang kondisi alamnya,terutama di kawasan yang terdapat banyak kolong. Meski ada juga kolong yang berhasil dieksplorasi menjadi kolam ikan,namun meski menggunakan kolam yang sudah berumur lebih dari 15 tahun. Jika kurang dari itu,matilah ikannya.
ReplyDeleteBekas komplek permukiman karyawan tambang pun betul-betul hancur tak bersisa,jika tak ingin dikatakan tak ada perawatan sedikitpun. Sekolah yang dibangun oleh perusahaan,roboh dan hancur,walau ada bagian masih sedikit utuh namun tak terawat. Bangunan yang kukira merupakan tempat berkumpul para karyawan semisal ada pesta,pun hancur juga. Sedih betul lah liat komplek mereka ketika itu. Benar-benar seperti judul artikel Kompas.com ini,habis manis sepah dibuang. Sedikit mengingatkanku dengan tempat lahirku di Murung Pudak Tanjung Tabalong. Walaupun masih jauh lebih baik tempatku disana ketimbang bekas komplek timah.
Aku juga bertanya-tanya ketika disana,apa sebenarnya yang menjadi andalan Propinsi Babel ini? Terutama Kabupaten Belitung dan Belitung Timur? Ngandelin lada? Ah,aku tak yakin itu. Setahuku ketika disana,bagian terbesarnya adalah petani penggarap,bukan petani pemilik lahan. Apalagi? Kata temanku,disana akan dikembangkan kawasan agropolitan. Macam mana akan dikembangkannya? Sampai kini pun tak ada beritanya.
Ah,sabarlah kawanku di Belitong ya. Kalau kalian mau ke Jawa,pergilah sana. Belajar yang banyak sampai kau ahli,kemudian pulanglah dan bangun kampung kau itu.
huh gt lah.....
ReplyDeletekota Amsterdam g bakalan meluas kalo bukan (salah satunya) dari timah belitong.....